Seorang pedagang kayu menerima lamaran seorang pekerja untuk menebang pohon di hutannya. Karena gaji yang dijanjikan dan kondisi kerja yang bakal diterima sangat baik, sehingga si calon penebang pohon itu pun bertekad untuk bekerja sebaik mungkin.
Saat mulai bekerja, si majikan memberikan sebuah kapak dan menunjukkan area kerja yang harus diselesaikan dengan target waktu yang telah ditentukan kepada si penebang pohon.
Hari pertama bekerja, dia berhasil merobohkan delapan batang pohon. Sore hari, mendengar hasil kerja si penebang, sang majikan terkesan dan memberikan pujian dengan tulus, “Hasil kerjamu sungguh luar biasa! Saya sangat kagum dengan kemampuanmu menebang pohon-pohon itu. Belum pernah ada yang sepertimu sebelum ini. Teruskan bekerja seperti itu”.
Sangat termotivasi oleh pujian majikannya, keesokan hari si penebang bekerja lebih keras lagi, tetapi dia hanya berhasil merobohkan tujuh batang pohon. Hari ketiga, dia bekerja lebih keras lagi, tetapi hasilnya tetap tidak memuaskan bahkan mengecewakan.
Semakin bertambahnya hari, semakin sedikit pohon yang berhasil dirobohkan. “Sepertinya aku telah kehilangan kemampuan dan kekuatanku, bagaimana aku dapat mempertanggungjawabkan hasil kerjaku kepada majikan?” pikir penebang pohon merasa malu dan putus asa.
Dengan kepala tertunduk dia menghadap ke sang majikan, meminta maaf atas hasil kerja yang kurang memadai dan mengeluh tidak mengerti apa yang telah terjadi.
Sang majikan menyimak dan bertanya kepadanya, “Kapan terakhir kamu mengasah kapak?”
“Mengasah kapak? Saya tidak punya waktu untuk itu, saya sangat sibuk setiap hari menebang pohon dari pagi hingga sore dengan sekuat tenaga”. Kata si penebang.
“Nah, disinilah masalahnya. Ingat, hari pertama kamu kerja? Dengan kapak baru dan terasah, maka kamu bisa menebang pohon dengan hasil luar biasa. Hari-hari berikutnya, dengan tenaga yang sama, menggunakan kapak yang sama tetapi tidak diasah, kamu tahu sendiri, hasilnya semakin menurun. Maka, sesibuk apapun, kamu harus meluangkan waktu untuk mengasah kapakmu, agar setiap hari bekerja dengan tenaga yang sama dan hasil yang maksimal. Sekarang mulailah mengasah kapakmu dan segera kembali bekerja!” perintah sang majikan.
Sambil mengangguk-anggukan kepala dan mengucap terimakasih, si penebang berlalu dari hadapan majikannya untuk mulai mengasah kapak.
Istirahat bukan berarti berhenti. Tetapi untuk menempuh perjalanan yang lebih jauh lagi. Sama seperti si penebang pohon, kita pun setiap hari, dari pagi hingga malam hari, seolah terjebak dalam rutinitas keseharian. Sibuk, sibuk dan sibuk, sehingga seringkali melupakan sisi lain yang sama pentingnya, yaitu istirahat sejenak mengasah dan mengisi hal-hal baru untuk menambah pengetahuan, wawasan dan spiritual. Jika kita mampu mengatur ritme kegiatan seperti ini, pasti kehidupan kita akan menjadi dinamis, berwawasan dan selalu baru.
http://www.facebook.com/note.php?created&&suggest¬e_id=163077073977
Selasa, 24 November 2009
Bagaimana menundukan nafsu
Seorang murid yang sedang bersungguh-sungguh menundukkan nafsunya menghampiri gurunya dan berkata, "Guru, sudah berapa lama aku berusaha menundukkan nafsu liarku ini, namun selalu saja aku tergelincir dan kalah. Apa yang harus kulakukan?" Guru yang bijak ini tidak segera menjawab pertanyaan muridnya, namun mengajaknya pergi ke rumah orang kaya dan terkenal dengan kedermawanannya, di desa tempat mereka tinggal.
Ketika sampai di gerbang pintu rumah si kaya itu, tiba-tiba dua ekor anjing besar dan buas segera berlari sambil menggonggong dengan keras menghampiri mereka berdua yang berada di luar gerbang. Murid itu terperanjat dan takut, sambil memandangi gurunya penuh keheranan, karena belum menjawab pertanyaannya tadi.
“Apa yang harus kita lakukan untuk masuk ke rumah orang kaya ini, supaya kita dapat mencicipi kedermawanannya? Apakah kita lawan anjing buas miliknya ini?” Tanya guru. Sambil mengerenyitkan dahi keheranan dengan kenaifan gurunya pikirnya, ia menjawab, “Guru, bukankah lebih baik kita memanggil pemilik anjing ini agar menenangkan dua anjing buasnya, lalu kita dapat masuk ke rumahnya dan merasakan hidangannya?”
Sambil tersenyum guru itu berkata, “Bagus, kau telah menjawab pertanyaanmu tadi.”
Namun murid itu masih bingung, “Maksud guru?” tanyanya.
Guru bijak itu lalu menjelaskan, “Nafsumu ibarat anjing buas ini yang menghalangimu untuk mencicipi kedermawanan Tuhanmu. Jika engkau melawannya dengan kekuatanmu sendiri, maka kau akan hancur dan tak pernah sampai ke rumah Tuhanmu. Cara yang cepat dan aman untuk semua itu, panggillah Tuhanmu dan mintalah Dia menenangkan nafsu liarmu yang milik-Nya itu, agar kau dapat masuk ke hadirat-Nya.”
Ketika sampai di gerbang pintu rumah si kaya itu, tiba-tiba dua ekor anjing besar dan buas segera berlari sambil menggonggong dengan keras menghampiri mereka berdua yang berada di luar gerbang. Murid itu terperanjat dan takut, sambil memandangi gurunya penuh keheranan, karena belum menjawab pertanyaannya tadi.
“Apa yang harus kita lakukan untuk masuk ke rumah orang kaya ini, supaya kita dapat mencicipi kedermawanannya? Apakah kita lawan anjing buas miliknya ini?” Tanya guru. Sambil mengerenyitkan dahi keheranan dengan kenaifan gurunya pikirnya, ia menjawab, “Guru, bukankah lebih baik kita memanggil pemilik anjing ini agar menenangkan dua anjing buasnya, lalu kita dapat masuk ke rumahnya dan merasakan hidangannya?”
Sambil tersenyum guru itu berkata, “Bagus, kau telah menjawab pertanyaanmu tadi.”
Namun murid itu masih bingung, “Maksud guru?” tanyanya.
Guru bijak itu lalu menjelaskan, “Nafsumu ibarat anjing buas ini yang menghalangimu untuk mencicipi kedermawanan Tuhanmu. Jika engkau melawannya dengan kekuatanmu sendiri, maka kau akan hancur dan tak pernah sampai ke rumah Tuhanmu. Cara yang cepat dan aman untuk semua itu, panggillah Tuhanmu dan mintalah Dia menenangkan nafsu liarmu yang milik-Nya itu, agar kau dapat masuk ke hadirat-Nya.”
Belajar dari iblis
Abu Hurairah bercerita : Suatu hari Rasulullah Saw menugaskanku untuk menjaga harta zakat pada bulan Ramadhan. Tiba-tiba datanglah seorang laki-laki melihat-lihat makanan dan langsung mengambilnya. Aku lalu menegurnya, “Jangan dulu mengambil, sebelum kusampaikan tentangmu kepada Rasulullah.”
Laki-laki itu menjawab, “Aku sudah berkeluarga dan saat ini betul-betul membutuhkan makanan untuk mereka.” Mendengar itu, aku akhirnya mengijinkan dia mengambil makanan itu.
Ketika pagi tiba, Rasulullah bertanya, “Wahai Abu Hurairah, apa yang kau lakukan semalam?”
Aku menjawab, “Wahai Rasulullah, seorang laku-laki mengadukan kesusahan keluarganya dan dia memohon harta zakat saat itu juga, lalu aku persilahkan dia mengambilnya.”
Rasulullah Saw lalu bersabda kembali, “Dia telah mengelabuimu wahai Abu Hurairah, dan esok akan kembali lagi.”
Karena tahu akan datang lagi, keesokan harinya aku mengawasinya dengan teliti dan ternyata betul apa yang disampikan Raulullah, ia telah berada di ruang zakat sambil memilih-milih harta zakat yang terkumpul lalu dia mengambilnya.
Melihat itu, aku berkata kembali, “Jangan kau ambil dulu harta itu sampai ada ijin dari Rasulullah Saw.” Laki-laki itu menjawab, “Aku betul-betul sangat membutuhkan makanan itu sekarang, keluargaku kini sedang menunggu menahan lapar. Aku berjani tidak akan kembali lagi esok hari”. Mendengar itu, aku merasa kasihan dan akhirnya aku persilahkan kembali dia mengambil harta zakat.
Keesokan harinya, Rasulullah bertanya kembali, “Apa yang kau lakukan kemarin wahai Abu Hurairah?” Aku menjawab, “Orang yang kemarin datang lagi dan meminta harta zakat. Karena keluarganya telah lama menuggu kelaparan, akhirnya aku kembali mengizinkan dia mengambil harta zakat tersebut. Mendengar hal itu, Rasulullah bersabda kembali, “Dia telah membohongimu, dan besok ia akan kembali untuk yang ketiga kalinya.”
Ternyata laki-laki itu kembali lagi. Seperti biasa, dia mengambil harta zakat yang sudah terkumpul di dalam gudang. Melihat itu, aku kembali menegurnya, “Jangan mengambil dahulu, aku akan memohon izin kepada Rasulullah Saw terlebih dahulu. Bukankah kau kemarin berjanji untuk tidak datang lagi, tapi kenapa kau kembali juga?” laki-laki itu menjawab, “Izinkanlah untuk yang terakhir kalinya aku mengambil harta zakat ini, dan sebagai imbalannya aku akan ajarkan kepadamu sebuah kalimat yang apabila kau membacanya, Allah akan selalu menjagamu dan kau tidak akan disentuh dan didekati setan hingga pagi hari.”
Aku tertarik dengan ucapannya. Aku pun menanyakan kalimat apakah itu. Dia menjawab, “Apabila kau hendak tidur jangan lupa membaca ayat kursi terlebih dahulu, karena dengannya Allah akan menjagamu dan kau tidak akan didekati setan hingga pagi tiba.”
Kali ini aku pun mengijinkannya mengambil harta zakat. Keesokan harinya Rasulullah kembali menanyakan apa yang telah kulakukan kemarin dan kukatakan, “Ya Rasulullah, aku terpaksa membolehkannya kembali mengambil zakat setelah dia mengajarkanku kalimat yang sangat bermanfaat.”
Lalu Rasulpun bertanya, “Kalimat apakah yang diajarkannya?” Aku menjawab bahwa dia mengajarkanku ayat Kursi dari awal sampai akhir dan dia katakan bahwa kalau aku membacanya, Allah akan menjagaku sampai pagi hari.
Rasulullah lalu bersabda, “Kini apa yang dia sampaikan memang betul, namun hanya saja dia sudah berhasil mengelabuimu dengan mengambil harta zakat. Tahukah kamu siapakah sebenarnya laki-laki yang mendatangimu tiga kali itu?” Aku menjawab, “Tidak, aku tidak tahu .” Rasulullah Saw kembali bersabda, “Ketahuilah, dia itu adalah setan". (HR.Bukhari)
NB : Saudaraku, begitulah pekerjaan setan. Ketika engkau hendak melakukan suatu kebajikan, ia akan berkata kepadamu, “Kerjakanlah esok saja.” Keesokan harinya ketika engkau hendak melaksanakannya, ia akan datang kembali seraya berkata, “Kerjakanlah esok saja.”
Laki-laki itu menjawab, “Aku sudah berkeluarga dan saat ini betul-betul membutuhkan makanan untuk mereka.” Mendengar itu, aku akhirnya mengijinkan dia mengambil makanan itu.
Ketika pagi tiba, Rasulullah bertanya, “Wahai Abu Hurairah, apa yang kau lakukan semalam?”
Aku menjawab, “Wahai Rasulullah, seorang laku-laki mengadukan kesusahan keluarganya dan dia memohon harta zakat saat itu juga, lalu aku persilahkan dia mengambilnya.”
Rasulullah Saw lalu bersabda kembali, “Dia telah mengelabuimu wahai Abu Hurairah, dan esok akan kembali lagi.”
Karena tahu akan datang lagi, keesokan harinya aku mengawasinya dengan teliti dan ternyata betul apa yang disampikan Raulullah, ia telah berada di ruang zakat sambil memilih-milih harta zakat yang terkumpul lalu dia mengambilnya.
Melihat itu, aku berkata kembali, “Jangan kau ambil dulu harta itu sampai ada ijin dari Rasulullah Saw.” Laki-laki itu menjawab, “Aku betul-betul sangat membutuhkan makanan itu sekarang, keluargaku kini sedang menunggu menahan lapar. Aku berjani tidak akan kembali lagi esok hari”. Mendengar itu, aku merasa kasihan dan akhirnya aku persilahkan kembali dia mengambil harta zakat.
Keesokan harinya, Rasulullah bertanya kembali, “Apa yang kau lakukan kemarin wahai Abu Hurairah?” Aku menjawab, “Orang yang kemarin datang lagi dan meminta harta zakat. Karena keluarganya telah lama menuggu kelaparan, akhirnya aku kembali mengizinkan dia mengambil harta zakat tersebut. Mendengar hal itu, Rasulullah bersabda kembali, “Dia telah membohongimu, dan besok ia akan kembali untuk yang ketiga kalinya.”
Ternyata laki-laki itu kembali lagi. Seperti biasa, dia mengambil harta zakat yang sudah terkumpul di dalam gudang. Melihat itu, aku kembali menegurnya, “Jangan mengambil dahulu, aku akan memohon izin kepada Rasulullah Saw terlebih dahulu. Bukankah kau kemarin berjanji untuk tidak datang lagi, tapi kenapa kau kembali juga?” laki-laki itu menjawab, “Izinkanlah untuk yang terakhir kalinya aku mengambil harta zakat ini, dan sebagai imbalannya aku akan ajarkan kepadamu sebuah kalimat yang apabila kau membacanya, Allah akan selalu menjagamu dan kau tidak akan disentuh dan didekati setan hingga pagi hari.”
Aku tertarik dengan ucapannya. Aku pun menanyakan kalimat apakah itu. Dia menjawab, “Apabila kau hendak tidur jangan lupa membaca ayat kursi terlebih dahulu, karena dengannya Allah akan menjagamu dan kau tidak akan didekati setan hingga pagi tiba.”
Kali ini aku pun mengijinkannya mengambil harta zakat. Keesokan harinya Rasulullah kembali menanyakan apa yang telah kulakukan kemarin dan kukatakan, “Ya Rasulullah, aku terpaksa membolehkannya kembali mengambil zakat setelah dia mengajarkanku kalimat yang sangat bermanfaat.”
Lalu Rasulpun bertanya, “Kalimat apakah yang diajarkannya?” Aku menjawab bahwa dia mengajarkanku ayat Kursi dari awal sampai akhir dan dia katakan bahwa kalau aku membacanya, Allah akan menjagaku sampai pagi hari.
Rasulullah lalu bersabda, “Kini apa yang dia sampaikan memang betul, namun hanya saja dia sudah berhasil mengelabuimu dengan mengambil harta zakat. Tahukah kamu siapakah sebenarnya laki-laki yang mendatangimu tiga kali itu?” Aku menjawab, “Tidak, aku tidak tahu .” Rasulullah Saw kembali bersabda, “Ketahuilah, dia itu adalah setan". (HR.Bukhari)
NB : Saudaraku, begitulah pekerjaan setan. Ketika engkau hendak melakukan suatu kebajikan, ia akan berkata kepadamu, “Kerjakanlah esok saja.” Keesokan harinya ketika engkau hendak melaksanakannya, ia akan datang kembali seraya berkata, “Kerjakanlah esok saja.”
apa yang paling..........didunia ini..........?
Suatu hari Imam al-Ghazali berkumpul dengan murid-muridnya, lalu Imam al-Ghozali bertanya kepada murid-muridnya tersebut :
1. Apa yang paling dekat dengan diri kita di dunia ini...? Murid-muridnya ada yang menjawab orang tua, guru, teman dan kerabat, Imam Ghazali menjelaskan bahwa semua itu benar, tetapi yang paling dekat dengan kita adalah "KEMATIAN". Sebab itu sudah janji Allah swt bahwa setiap yang bernyawa pasti akan mati (Ali Imran 185), lalu Imam al-Ghozali meneruskan pertanyaan yang kedua.
2. Apa yang paling jauh dari diri kita di dunia ini...? Murid-muridnya ada yang menjawab negara Cina, bulan, matahari dan bintang. Lalu Imam al-Ghazali menjelaskan bahwa semua jawaban yang mereka berikan benar, tetapi yang paling benar adalah "MASA LALU". Sebab bagaimanapun, apapun kendaraan kita, tetap kita tidak bisa kembali ke masa lalu. Oleh sebab itu kita harus menjaga hari ini dan hari-hari yang akan datang dengan perbuatan yang sesuai dengan ajaran Agama.
3. Apa yang paling besar di dunia ini...? Murid-muridnya menjawab gunung, bumi, matahari. Semua jawaban itu benar kata Imam al-Ghazali, tetapi yang paling besar dari yang ada di dunia ini adalah "NAFSU" (al-A'raf 179). Maka kita harus berhati-hati dengan nafsu kita, jangan sampai membawa kita ke neraka.
4. Apa yang paling berat di dunia...? Murid-muridnya ada yang menjawab baja, besi, dan gajah. Semua jawaban kalian benar kata Imam al-Ghazali. Tapi yang paling berat adalah "MEMEGANG AMANAH" (al-Ahzab 72). Tumbuh-tumbuhan, binatang, gunung dan Malaikat semua tidak mampu ketika Allah swt meminta mereka untuk menjadi khalifah (pemimpin) di dunia ini. Tetapi manusia dengan sombongnya menyanggupi permintaan Allah swt, sehingga banyak dari mereka yang masuk ke dalam neraka karena tidak bisa memegang amanahnya.
5. Apa yang paling ringan di dunia ini...? Murid-muridnya ada yang menjawab kapas, angin, debu, dan daun-daunan. Semua itu benar tapi yang paling ringan di dunia ini adalah "MENINGGALKAN SHaLAT". Karena kesibukan dan pekerjaan, manusia dapat meninggalkan shalat.
6. Apakah yang paling tajam di dunia ini...? Murid-muridnya menjawab serentak, Pedang.… "Benar!" kata Imam al-Ghazali. Tapi yang paling tajam adalah "LIDAH MANUSIA" karena dengan lidah, manusia dengan gampangnya menyakiti hati dan perasaan saudaranya sendiri.
1. Apa yang paling dekat dengan diri kita di dunia ini...? Murid-muridnya ada yang menjawab orang tua, guru, teman dan kerabat, Imam Ghazali menjelaskan bahwa semua itu benar, tetapi yang paling dekat dengan kita adalah "KEMATIAN". Sebab itu sudah janji Allah swt bahwa setiap yang bernyawa pasti akan mati (Ali Imran 185), lalu Imam al-Ghozali meneruskan pertanyaan yang kedua.
2. Apa yang paling jauh dari diri kita di dunia ini...? Murid-muridnya ada yang menjawab negara Cina, bulan, matahari dan bintang. Lalu Imam al-Ghazali menjelaskan bahwa semua jawaban yang mereka berikan benar, tetapi yang paling benar adalah "MASA LALU". Sebab bagaimanapun, apapun kendaraan kita, tetap kita tidak bisa kembali ke masa lalu. Oleh sebab itu kita harus menjaga hari ini dan hari-hari yang akan datang dengan perbuatan yang sesuai dengan ajaran Agama.
3. Apa yang paling besar di dunia ini...? Murid-muridnya menjawab gunung, bumi, matahari. Semua jawaban itu benar kata Imam al-Ghazali, tetapi yang paling besar dari yang ada di dunia ini adalah "NAFSU" (al-A'raf 179). Maka kita harus berhati-hati dengan nafsu kita, jangan sampai membawa kita ke neraka.
4. Apa yang paling berat di dunia...? Murid-muridnya ada yang menjawab baja, besi, dan gajah. Semua jawaban kalian benar kata Imam al-Ghazali. Tapi yang paling berat adalah "MEMEGANG AMANAH" (al-Ahzab 72). Tumbuh-tumbuhan, binatang, gunung dan Malaikat semua tidak mampu ketika Allah swt meminta mereka untuk menjadi khalifah (pemimpin) di dunia ini. Tetapi manusia dengan sombongnya menyanggupi permintaan Allah swt, sehingga banyak dari mereka yang masuk ke dalam neraka karena tidak bisa memegang amanahnya.
5. Apa yang paling ringan di dunia ini...? Murid-muridnya ada yang menjawab kapas, angin, debu, dan daun-daunan. Semua itu benar tapi yang paling ringan di dunia ini adalah "MENINGGALKAN SHaLAT". Karena kesibukan dan pekerjaan, manusia dapat meninggalkan shalat.
6. Apakah yang paling tajam di dunia ini...? Murid-muridnya menjawab serentak, Pedang.… "Benar!" kata Imam al-Ghazali. Tapi yang paling tajam adalah "LIDAH MANUSIA" karena dengan lidah, manusia dengan gampangnya menyakiti hati dan perasaan saudaranya sendiri.
lapar..........
Suatu ketika, adalah salah seorang yang sedang berjalan di malam hari melewati rumah-rumah penduduk yang telah lelap dalam tidurnya. Kemudian ia mendengar dari salah satu rumah tersebut tangisan anak kecil.
Ia pun kemudian mencari dari mana arah suara tersebut datang. Ternyata tangisan anak kecil tersebut dari salah satu rumah seorang fakir miskin. Ia kemudian mendekat dan mengetuk pintu rumah tersebut.
Tangisan itu semakin jelas ia dengar. Beberapa saat setelah ia mengetuk pintu, seorang anak kecil yang baru berusia lima tahun membukakan pintu. Ia membuka pintu sambil menangis.
“..apakah kau menangis karena lapar duhai anakku..?” Tanyanya kepada anak kecil tersebut.
Anak kecil itu kemudian menjawab, “..bukan. Aku menangis karena bersyukur kepada Allah. Lapar adalah salah satu sifat orang-orang shalih yang derajatnya dimuliakan oleh Allah swt. Dan aku sangat bersyukur karena diusiaku yang masih kanak-kanak ini dan aku tidak memiliki amalan apapun, namun Allah swt memberikan kepadaku sifat orang yang shalih, yaitu LAPAR..”
Ia pun kemudian mencari dari mana arah suara tersebut datang. Ternyata tangisan anak kecil tersebut dari salah satu rumah seorang fakir miskin. Ia kemudian mendekat dan mengetuk pintu rumah tersebut.
Tangisan itu semakin jelas ia dengar. Beberapa saat setelah ia mengetuk pintu, seorang anak kecil yang baru berusia lima tahun membukakan pintu. Ia membuka pintu sambil menangis.
“..apakah kau menangis karena lapar duhai anakku..?” Tanyanya kepada anak kecil tersebut.
Anak kecil itu kemudian menjawab, “..bukan. Aku menangis karena bersyukur kepada Allah. Lapar adalah salah satu sifat orang-orang shalih yang derajatnya dimuliakan oleh Allah swt. Dan aku sangat bersyukur karena diusiaku yang masih kanak-kanak ini dan aku tidak memiliki amalan apapun, namun Allah swt memberikan kepadaku sifat orang yang shalih, yaitu LAPAR..”
Cara menjauhkan diri dari maksiat
Suatu ketika datang seseorang kepada Ibrahim bin Adham seraya berkata, “..aku adalah orang yang gemar berbuat maksiat dan aku ingin engkau menolongku agar aku jauh dari maksiat dan tidak dibenci oleh Allah Swt..”
Kemudian Ibrahim bin Adham berkata, “..aku akan memberikan kepadamu lima hal : Pertama, jika kau ingin berbuat maksiat, maka janganlah sekali-kali engkau memakan rezeki yang datangnya dari Allah.”
“Mana mungkin, karena semua yang manusia dapat di dunia ini adalah rezeki dari Allah.” Jawab orang tersebut.
Ibrahim bin Adham kemudian berkata “..apakah kau tidak malu memakan rezeki dari Allah dan kau bermaksiat melanggar laranganya?”
Kedua, jika kau ingin berbuat maksiat, maka janganlah sesekali tinggal di tempat milik Allah.”
“Mana mungkin, karena semua tempat adalah milik Allah.” Jawab orang tersebut.
Ibrahim bin Adham kemudian berkata, “..apakah kau tidak malu tinggal di tempat milik Allah dan kau bermaksiat melanggar laranganya?”
Ketiga, jika kau ingin maksiat maka bermaksiatlah di tempat yang tidak dilihat Allah.”
“Mana mungkin, karena Allah Maha Melihat dan Mengetahui.” Jawab orang tersebut.
Ibrahim bin Adham kemudian berkata, “..apakah kau tidak malu bermaksiat melanggar laranganya dan Ia Melihatmu?”
Keempat, jika datang malaikat maut kepadamu, maka mintalah kepadanya untuk menunda agar kau dapat bertaubat.”
“Mana mungkin, karena setiap ajal tidak dapat ditunda atau dimajukan.” Jawab orang tersebut.
Ibrahim bin Adham kemudian berkata, “..jika tidak bisa maka bagaiman jika datang malaikat maut dan kau dalam keadaan maksiat melanggar larangan Allah?”
Kelima, jika malaikat yang meniup sangkakala telah meniupkan sangkakalanya, maka selamatkanlah dirimu dan jangan lari bersama orang-orang yang ada di dunia.”
“Mana mungkin, aku pasti akan mati.” Jawab orang tersebut.
Setelah mendengar apa yang diucapkan oleh Ibrahim bin Adham, orang tersebut menyadari akan kesalahannya dan bertaubat kepada Allah dan menjadi hamba-Nya yang shalih yang selalu menjaga dirinya agar tidak terjerumus ke lubang maksiat hingga akhir umurnya.
Laporkan
Kemudian Ibrahim bin Adham berkata, “..aku akan memberikan kepadamu lima hal : Pertama, jika kau ingin berbuat maksiat, maka janganlah sekali-kali engkau memakan rezeki yang datangnya dari Allah.”
“Mana mungkin, karena semua yang manusia dapat di dunia ini adalah rezeki dari Allah.” Jawab orang tersebut.
Ibrahim bin Adham kemudian berkata “..apakah kau tidak malu memakan rezeki dari Allah dan kau bermaksiat melanggar laranganya?”
Kedua, jika kau ingin berbuat maksiat, maka janganlah sesekali tinggal di tempat milik Allah.”
“Mana mungkin, karena semua tempat adalah milik Allah.” Jawab orang tersebut.
Ibrahim bin Adham kemudian berkata, “..apakah kau tidak malu tinggal di tempat milik Allah dan kau bermaksiat melanggar laranganya?”
Ketiga, jika kau ingin maksiat maka bermaksiatlah di tempat yang tidak dilihat Allah.”
“Mana mungkin, karena Allah Maha Melihat dan Mengetahui.” Jawab orang tersebut.
Ibrahim bin Adham kemudian berkata, “..apakah kau tidak malu bermaksiat melanggar laranganya dan Ia Melihatmu?”
Keempat, jika datang malaikat maut kepadamu, maka mintalah kepadanya untuk menunda agar kau dapat bertaubat.”
“Mana mungkin, karena setiap ajal tidak dapat ditunda atau dimajukan.” Jawab orang tersebut.
Ibrahim bin Adham kemudian berkata, “..jika tidak bisa maka bagaiman jika datang malaikat maut dan kau dalam keadaan maksiat melanggar larangan Allah?”
Kelima, jika malaikat yang meniup sangkakala telah meniupkan sangkakalanya, maka selamatkanlah dirimu dan jangan lari bersama orang-orang yang ada di dunia.”
“Mana mungkin, aku pasti akan mati.” Jawab orang tersebut.
Setelah mendengar apa yang diucapkan oleh Ibrahim bin Adham, orang tersebut menyadari akan kesalahannya dan bertaubat kepada Allah dan menjadi hamba-Nya yang shalih yang selalu menjaga dirinya agar tidak terjerumus ke lubang maksiat hingga akhir umurnya.
Laporkan
meraih kebahagiaan
Frank Mihalic bercerita dalam The Millennium Stories bahwa suatu hari seorang wanita cantik berpakaian mahal mengeluh kepada psikiater, ia merasa hidupnya kosong tak berarti.
Sang psikiater berkata, “Aku akan memanggil Mary agar ia bercerita bagaimana ia menemukan kebahagiaan. Dengarkanlah keterangannya baik-baik!”
Ia kemudian memanggil wanita tua yang bernama Mary yang biasa mengepel lantai kantornya. Wanita tua tersebut meletakkan sapunya kemudian duduk di kursi dan mulai bercerita.
“Well, suamiku meninggal karena malaria, tiga bulan kemudian satu-satunya anakku meninggal karena kecelakaan. Aku tidak memiliki siapa-siapa lagi, aku juga tidak memiliki apa-apa. Makan terasa tidak enak, tidurpun terasa tak nyenyak. Aku tidak dapat tersenyum kepada siapa pun. Aku bahkan pernah berpikir untuk mengakhiri hidupku.” Jelas wanita tua itu.
“Pada suatu sore, seekor anak kucing mengikutiku pulang dari kerja. Aku merasa kasihan dengan kucing kecil itu. Cuaca hari itu sangat dingin. Lalu kubiarkan ia masuk ke dalam rumah. Kuberi ia susu hangat di piring kecil. Kucing itu menjilat-jilat dengan lahap sampai piring itu bersih. Ia kemudia menggeram dan menggosok-gosokkan badannya ke tubuhku. Menyaksikan apa yang dilakukan oleh kucing kecil itu, aku tersenyum. Itu adalah senyumku yang pertama kali setelah berbulan-bulan. Kemudian aku merenung, jika membantu kucing kecil saja dapat membuatku tersenyum, mungkin berbuat sesuatu untuk manusia dapat membuatku bahagia. Keesokan harinya, aku membikin kue dan membawakannya ke tetanggaku yang sedang sakit. Melihat mereka senang, aku pun turut bahagia. Sekarang, aku tak tahu apakah ada manusia yang tidur dan makan seenak diriku. Aku telah menemukan kebahagiaan dengan membuat orang lain bahagia.
Demikian akhir cerita Frank Mihalic.
Sang psikiater berkata, “Aku akan memanggil Mary agar ia bercerita bagaimana ia menemukan kebahagiaan. Dengarkanlah keterangannya baik-baik!”
Ia kemudian memanggil wanita tua yang bernama Mary yang biasa mengepel lantai kantornya. Wanita tua tersebut meletakkan sapunya kemudian duduk di kursi dan mulai bercerita.
“Well, suamiku meninggal karena malaria, tiga bulan kemudian satu-satunya anakku meninggal karena kecelakaan. Aku tidak memiliki siapa-siapa lagi, aku juga tidak memiliki apa-apa. Makan terasa tidak enak, tidurpun terasa tak nyenyak. Aku tidak dapat tersenyum kepada siapa pun. Aku bahkan pernah berpikir untuk mengakhiri hidupku.” Jelas wanita tua itu.
“Pada suatu sore, seekor anak kucing mengikutiku pulang dari kerja. Aku merasa kasihan dengan kucing kecil itu. Cuaca hari itu sangat dingin. Lalu kubiarkan ia masuk ke dalam rumah. Kuberi ia susu hangat di piring kecil. Kucing itu menjilat-jilat dengan lahap sampai piring itu bersih. Ia kemudia menggeram dan menggosok-gosokkan badannya ke tubuhku. Menyaksikan apa yang dilakukan oleh kucing kecil itu, aku tersenyum. Itu adalah senyumku yang pertama kali setelah berbulan-bulan. Kemudian aku merenung, jika membantu kucing kecil saja dapat membuatku tersenyum, mungkin berbuat sesuatu untuk manusia dapat membuatku bahagia. Keesokan harinya, aku membikin kue dan membawakannya ke tetanggaku yang sedang sakit. Melihat mereka senang, aku pun turut bahagia. Sekarang, aku tak tahu apakah ada manusia yang tidur dan makan seenak diriku. Aku telah menemukan kebahagiaan dengan membuat orang lain bahagia.
Demikian akhir cerita Frank Mihalic.
Langganan:
Postingan (Atom)
